Rendang tidak hanya merepresentasikan kekayaan kuliner dan identitas budaya Minangkabau, tetapi juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk pangan bernilai tambah dengan jangkauan pasar yang lebih luas. Potensi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Dialog Interaktif ABG (Academia, Business, Government) bertema “Sinergi ABG: Gastronomi Lokal Mendunia” yang diselenggarakan oleh BBPOM di Padang di Universitas Andalas. Forum ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan pemikiran akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah dalam membangun ekosistem yang mampu mengantarkan pangan lokal dari kekayaan tradisi menuju produk yang memiliki daya saing lebih luas.
Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala BPOM RI Taruna Ikrar, Ketua Himpunan Pengusaha Rendang Minangkabau Fibrianti Takarina, dan Wakil Rektor I Universitas Andalas Syukri Arief, bersama unsur akademisi, dunia usaha, dan pemerintah. Turut hadir Sekretaris Utama BPOM Jayadi, Deputi Bidang Penindakan BPOM Tubagus Ade Hidayat, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM Mohamad Kashuri, Kepala BBPOM di Padang Irwan, Kepala Balai POM di Sijunjung Putra Gustianto, serta Plh. Kepala Balai POM di Payakumbuh Hilda, beserta jajaran dan pemangku kepentingan lainnya. Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong pengembangan pangan lokal yang inovatif, memenuhi persyaratan, dan memiliki peluang menjangkau pasar yang lebih luas.
Dalam dialog tersebut, Taruna Ikrar menyampaikan bahwa rendang menjadi salah satu produk yang dibahas dalam kolaborasi gastronomi karena tidak hanya memiliki karakter rasa yang kuat, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi yang besar. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan pangan yang sangat beragam, yang salah satunya tercermin dari banyaknya produk pangan yang telah memperoleh izin edar maupun sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).
“Ini menunjukkan kita memiliki kekayaan yang luar biasa. Karena itu, aspek gizi, kualitas, sertifikasi, hingga penerapan cara pengolahan pangan yang baik harus terus diperkuat,” ujar Taruna Ikrar. Ia menekankan bahwa penerapan standar dan sertifikasi bukan sekadar pemenuhan dokumen administratif, melainkan merupakan bagian penting dari upaya memberikan perlindungan kepada konsumen agar produk pangan yang beredar memenuhi aspek keamanan dan mutu.
Dalam konteks pengembangan rendang, Taruna juga menilai keterlibatan perguruan tinggi menjadi bagian yang sangat penting. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui penelitian, penerapan teknologi, pengujian, serta keahlian akademik untuk membantu memastikan produk yang dikembangkan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempertemukan potensi pengetahuan dan inovasi dengan kebutuhan dunia usaha serta dukungan regulasi pemerintah.
Rendang dalam forum tersebut tidak hanya dipandang dari sisi cita rasa dan kekhasannya, tetapi juga dari kesiapan produk untuk diproduksi, dikemas, disimpan, dan didistribusikan dalam jangkauan yang lebih luas. Pengembangan produk membutuhkan riset dan inovasi agar karakteristik khas rendang tetap terjaga, sekaligus memungkinkan proses produksinya memenuhi kebutuhan pasar modern. Dengan pendekatan tersebut, kekayaan kuliner Minangkabau dapat berkembang tanpa kehilangan identitasnya.
Salah satu teknologi yang menjadi perhatian adalah sterilisasi komersial, yang dapat mendukung perpanjangan masa simpan produk tanpa melalui proses pembekuan. Penerapan teknologi ini membuka peluang distribusi rendang ke wilayah yang lebih jauh dan pasar yang lebih luas. Namun, penerapannya tetap perlu didukung kompetensi, pengujian, serta pemenuhan persyaratan yang sesuai agar mutu dan keamanan produk tetap terjaga.
Dari sisi pelaku usaha, kesiapan memenuhi ketentuan menjadi fondasi sebelum produk melangkah ke pasar yang lebih luas. Konsep “ready to comply” menuju “ready to compete” menggambarkan tahapan ketika pelaku usaha terlebih dahulu memastikan produknya memenuhi regulasi, kemudian membangun daya saing melalui inovasi, konsistensi mutu, penerapan teknologi, efisiensi proses, dan perluasan pasar. Dengan demikian, kepatuhan terhadap regulasi tidak menjadi hambatan, tetapi menjadi bagian dari kesiapan untuk tumbuh dan bersaing.
Peran akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah yang saling terhubung menjadi kunci agar pengembangan pangan lokal tidak berhenti pada popularitas produk semata. Riset dapat menghasilkan pengetahuan dan teknologi, pelaku usaha menerapkannya dalam proses produksi dan pengembangan bisnis, sementara pemerintah memberikan pembinaan, pengawasan, serta kepastian regulasi. Ketiganya dapat berjalan bersama untuk menciptakan produk yang memiliki nilai tambah sekaligus memberikan perlindungan kepada masyarakat.
Sinergi tersebut juga membawa manfaat yang lebih luas. Bagi pelaku usaha, pengembangan produk berbasis riset dapat membuka peluang peningkatan skala bisnis dan perluasan pasar. Bagi masyarakat, inovasi dapat menghadirkan pilihan produk pangan yang lebih beragam dengan mutu dan keamanan yang diperhatikan. Sementara bagi daerah, penguatan komoditas khas seperti rendang dapat menjadi bagian dari pengembangan ekonomi lokal dan peningkatan nilai tambah produk unggulan daerah.
Dialog Interaktif ABG “Sinergi ABG: Gastronomi Lokal Mendunia” menjadi momentum untuk menegaskan bahwa perjalanan pangan Nusantara menuju pasar global membutuhkan lebih dari sekadar produk yang dikenal luas. Diperlukan riset yang relevan, inovasi yang tepat, pemanfaatan teknologi, kesiapan pelaku usaha, serta pemahaman dan pemenuhan regulasi agar produk lokal mampu berkembang secara berkelanjutan.
Rendang memiliki akar budaya yang kuat sekaligus peluang ekonomi yang besar. Melalui keterhubungan antara akademisi, bisnis, dan pemerintah, potensi tersebut dapat diarahkan menjadi produk yang tidak hanya mempertahankan cita rasa dan identitas Minangkabau, tetapi juga siap menjangkau konsumen di berbagai wilayah dengan tetap memperhatikan mutu, keamanan, dan ketentuan yang berlaku.
Dari Minangkabau untuk Indonesia, dari Indonesia menuju dunia.
Balai Besar POM di Padang