Resistensi antimikroba menjadi tantangan kesehatan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Untuk memperkuat pemahaman dan komitmen tenaga kefarmasian dalam penggunaan antimikroba secara tepat dan rasional, Balai Besar POM di Padang menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pengendalian Resistensi Antimikroba dengan tema “Satukan Aksi, Cegah Resistensi Antimikroba Sekarang, Lindungi Masa Kini, Amankan Masa Depan” di Aula Lantai 3 BBPOM di Padang (28/9).
Bimbingan teknis ini diikuti oleh Apoteker Penanggung Jawab dan Pemilik Apotek di Wilaayah Kerja BBPOM di Padang serta dihadiri Kepala Balai POM di Sijunjung, Putra Gusrianto. Forum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman sekaligus membangun kesamaan langkah dalam mencegah penggunaan antimikroba yang tidak tepat.
Acara dibuka oleh Kepala BBPOM di Padang, Irwan, yang mengulas fakta resistensi antimikroba serta berbagai upaya yang telah dan akan dilakukan Badan POM. Ia menekankan pentingnya pengawasan yang berkelanjutan dengan pendekatan responsive regulation, mulai dari persuasi dan edukasi, teguran atau perintah perbaikan, hingga penerapan sanksi administratif sesuai tingkat pelanggaran.
Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh PFM Ahli Madya, Dilla Shavera, yang mengangkat peran profesi dan pelaku usaha dalam pengendalian resistensi antimikroba. Perspektif tersebut menegaskan bahwa pencegahan AMR memerlukan tanggung jawab bersama, termasuk dari tenaga kefarmasian dan pelaku usaha yang berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Narasumber berikutnya, Rahmat Hidayat, apt., S.Farm., M.Sc., yang dikenal sebagai Mr Matt (Apoteker Rahmato), membawakan topik “Antimikroba: Dari Resistensi ke Rasionalitas”. Ia mengajak peserta melihat penggunaan obat tidak sekadar dari aspek penyerahan, tetapi juga memastikan terapi memiliki indikasi yang tepat, efektif, aman, serta dapat diikuti pasien dengan baik.
Dalam paparannya, Rahmat juga menjelaskan bahwa resistensi dapat menyebabkan infeksi lebih sulit ditangani, meningkatkan biaya pengobatan, serta membatasi ketersediaan pilihan antimikroba. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan berlebihan menjadi salah satu faktor yang mempercepat munculnya resistensi.
Suasana forum semakin interaktif melalui sesi diskusi. Para apoteker berkesempatan membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan penggunaan antimikroba di lapangan, sekaligus menggali langkah yang dapat diterapkan dalam praktik pelayanan kefarmasian.
Untuk mengetahui pemahaman awal dan perkembangan pengetahuan setelah mengikuti bimbingan teknis, peserta mengerjakan pre-test sebelum acara dimulai dan post-test pada akhir sesi.
Komitmen bersama turut diwujudkan melalui penandatanganan Surat Pernyataan/Pakta Integritas Komitmen Pengendalian Resistensi Antimikroba (AMR) oleh peserta. Langkah ini menjadi bentuk kesanggupan untuk turut menjaga penggunaan antimikroba secara bertanggung jawab serta mendukung upaya pencegahan resistensi.
Melalui forum tersebut, BBPOM di Padang terus mendorong kolaborasi antara regulator, tenaga kefarmasian, pelaku usaha, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Dengan langkah yang dilakukan secara bersama dan konsisten, penggunaan antimikroba diharapkan semakin tepat sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan masyarakat, kini maupun di masa mendatang.
Balai Besar POM di Padang